Living Laboratory

Konsep Living Laboratory mengintegrasikan riset akademik dengan praktik lapangan nyata. Di sini, sacha inchi dan tanaman bahan alam dikembangkan bersama upaya konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan rantai pasok yang tangguh dan berkelanjutan.

Konteks dan Peluang Arjasari

Revitalisasi lahan Unpad Arjasari dipandang sebagai peluang strategis untuk pengembangan model agroforestri. Fokus utama adalah mengoptimalkan lahan yang ada sebagai pusat pembelajaran dan produksi, tanpa mengklaim kepemilikan program secara penuh, melainkan sebagai kolaborasi sinergis.

Komponen Program

Program ini mencakup pemetaan lahan yang presisi, penyediaan bibit unggul, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), dan sistem tumpangsari. Selain itu, aspek traceability (ketertelusuran), manajemen pascapanen, pemanfaatan hasil samping, riset mahasiswa, serta pembangunan demplot menjadi pilar utama.

Indikator

Keberhasilan diukur melalui indikator luas lahan efektif, survival rate (tingkat kelangsungan hidup) tanaman, produktivitas per hektar, mutu hasil panen, tingkat partisipasi masyarakat, kesehatan tanah, indeks biodiversitas, serta daya serap hasil produksi oleh mitra industri.

Risiko dan Mitigasi

Risiko perubahan iklim dan hama dimitigasi melalui diversifikasi tanaman dan sistem peringatan dini. Risiko sosial dimitigasi dengan transparansi dan pelibatan komunitas lokal sejak tahap perencanaan.

Model Kolaborasi

Model kolaborasi mengedepankan kemitraan multi-pihak antara akademisi, sektor swasta, dan masyarakat. Fokusnya adalah pada keberlanjutan jangka panjang dan pembagian nilai tambah yang adil bagi seluruh aktor dalam rantai pasok.